Rabu, 05 Maret 2014

prosa, fiksi dan drama



BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Unsur suatu genre sastra drama mempunyai kekhususan dibanding genre puisi ataupun genra fiksi. Kesan dan kesadaran terhadap drama lebih difokuskan kepada bentuk karya yang bereaksi langsung secara konkret. Kekhususan drama disebabkan oleh tujuan drama pengarangnya tidak hanya berhenti sampai pada tahap pembeberan peristiwa untuk dinikmati secara artistik imajinatif oleh para pembacanya, namun mesti diteruskan untuk kemungkinan dapat dipertontonkan dalam suatu penampilan gerak dan perilaku konkret yang dapat disaksikan kekhususannya inilah yang kemudian menyebabkan pengertian drama sebagai suatu genre sastra lebih terfokus sebagai suatu karya yang berorientasi kepada seni pertunjukan.

B.            Rumusan Masalah
1.             Bagaimana aturan bermain drama?
2.             Bagaimana pementasan naskah drama?
3.             Bagaimana penyutradaraan naskah drama?

C.           Tujuan
1.             Menjelaskan aturan bermain drama.
2.             Menjelaskan pementasan naskah drama.
3.             Menjelaskan penyutradaraan drama.






BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Drama
Drama atau teater juka ditinjau dari beberapa aspek adalah salah satu  genre sastra. Namun,  perlu dijelaskan bahwa bedanya  dengan bentuk lain ( prosa dan fiksi ), drama bukanlah sekedar teks yang dipentaskan dimainkan dilakonkan karena itu penikmatannya melalui proses menyaksikan, menonton pementasan drama.
Drama termasuk ragam sastra karena ceritanya bersifat imajinatif dalam bentuk naskah drama. Sebagai suatu bentuk seni, drama merupakan seni kompleks, karena terkandung, terkait, dan ditunjang oleh seni-seni yang lain; seni musik, seni arsitektur dan seni dekorasi terutama pada tata panggung, seni ukir untuk topeng, seni hias untuk tata wajah dan tata busana, seni tari, dan dukungan tata cahaya. ( Elmustian Rahman: 2005, 150 )
1.      Aturan bermain drama
Memerankan drama berarti mengaktualisasikan segala hal yang terdapat di dalam naskah drama ke dalam lakon drama di atas pentas. Aktivitas yang menonjol dalam memerankan drama ialah dialog antartokoh, monolog, ekspresi mimik, gerak anggota badan, dan perpindahan letak pemain.
Pada saat melakukan dialog ataupun monolog, aspek-aspek suprasegmental (lafal, intonasi, nada atau tekanan dan mimik) mempunyai peranan sangat penting. Lafal yang jelas, intonasi yang tepat, dan nada atau tekanan yang mendukung penyampaian isi/pesan.


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memerankan drama.
1. Membaca dan Memahami Teks Drama
Sebelum memerankan drama, kegiatan awal yang perlu kita lakukan ialah membaca dan memahami teks drama. Teks drama adalah karangan atau tulisan yang berisi nama-nama tokoh, dialog yang diucapkan, latar panggung yang dibutuhkan, dan pelengkap lainnya (kostum, lighting, dan musik pengiring). Dalam teks drama, yang diutamakan ialah tingkah laku (acting) dan dialog (percakapan antartokoh) sehingga penonton memahami isi cerita yang dipentaskan secara keseluruhan. Oleh karena itu, kegiatan membaca teks drama dilakukan sampai dikuasainya naskah drama yang akan diperankan.
Dalam teks drama yang perlu dipahami ialah pesan-pesan dan nilai-nilai yang dibawakan oleh pemain. Dalam membawakan pesan dan nilai-nilai itu, pemain akan terlibat dalam konflik atau pertentangan. Jadi, yang perlu dibaca dan pahami ialah rangkaian peristiwa yang membangun cerita dan konflik-konflik yang menyertainya.
2. Menghayati Watak Tokoh yang akan Diperankan
Sebelum memerankan sebuah drama, kita perlu menghayati watak tokoh. Apa yang perlu kita lakukan untuk menghayati tokoh? Watak tokoh dapat diidentifikasi melaui (1) narasi pengarang, (2) dialog-dialog  dalam teks drama, (3) komentar atau ucapan tokoh lain terhadap tokoh tertentu, dan (4) latar yang mengungkapkan watak tokoh.
Melalui menghayati yang sungguh-sungguh, kamu dapat memerankan tokoh tertentu dengan baik. Watak seorang tokoh dapat diekspresikan melalui cara sang tokoh memikirkan dan merasakan, bertutur kata, dan bertingkah laku, seperti dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Artinya, watak seorang tokoh bisa dihayati mulai dari cara sang tokoh  memikirkan dan merasakan sesuatu, cara tokoh bertutur kata dengan tokoh lainnya, dan cara tokoh bertingkah laku.
Hal yang paling penting dalam memerankan drama adalah dialog. Oleh karena itu, seorang pemain harus mampu:
1.   Mengucapkan dialog dengan lafal yang jelas.
Seorang pemain dikatakan mampu bertutur dengan jelas apabila setiap suku kata yang diucapkannya dapat terdengar jelas oleh penonton sampai deretan paling belakang. Selain jelas, pemain harus mampu mengucapkan dialog secara wajar. Perasaan dari masing-masing pemain pun harus bisa ditangkap oleh penonton.
2.   Membaca dialog dengan memperhatikan kecukupan volume suara.
Seorang pemain harus bisa menghasilkan suara yang cukup keras. Ketika membaca dialog, suara pemain harus bisa memenuhi ruangan yang dipakai untuk pementasan. Suara pemain tidak hanya bisa didengar ketika panggung dalam keadaan sepi, juga ketika ada penonton yang berisik.
3.   Membaca dialog dengan tekanan yang tepat.
Kalimat mengandung pikiran dan perasaan. Kedua hal ini dapat ditangkap oleh orang lain bila pembicara (pemain) menggunakan tekanan secara benar. Tekanan dapat menunjukkan bagian-bagian kalimat yang ingin ditonjolkan.



Ada 3 macam tekanan yang biasa digunakan dalam melisankan naskah drama.
1.      tekanan dinamik
yaitu tekanan yang diberikan terhadap kata atau kelompok kata tertentu dalam kalimat, sehingga kata atau kelompok kata tersebut terdengar lebih menonjol dari kata-kata yang lain. Misalnya, ”Engkau boleh pergi. Tapi, tanggalkan bajumu sebagai jaminan!”  (kata yang dicetak miring menunjukkan penekanan dalam ucapan).
2. tekanan tempo
yaitu tekanan pada kata atau kelompok kata tertentu dengan jalan memperlambat pengucapannya. Kata yang mendapat tekanan tempo diucapkan seperti mengeja suku katanya. Misalnya, ”Engkau boleh pergi. Tapi, tang-gal-kan ba-ju-mu sebagai jaminan!” Pengucapan kelompok kata dengan cara memperlambat seperti itu merupakan salah satu cara menarik perhatian untuk menonjolkan bagian yang dimaksud.
3. tekanan nada
yaitu nada lagu yang diucapkan secara berbeda-beda untuk menunjukkan perbedaan keseriusan orang yang mengucapkannya. Misalnya, ”Engkau boleh pergi. Tapi, tanggalkan bajumu sebagai jaminan!” bisa diucapkan dengan tekanan nada yang menunjukkan ”keseriusan” atau ”ancaman” jika diucapkan secara tegas mantap. Akan tetapi, kalimat tersebut bisa juga diucapkan dengan nada bergurau jika pengucapannya disertai dengan senyum dengan nada yang ramah.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyampaikan dialog drama adalah:
1.                  penggunaan bahasa, baik secara pelafalan maupun intonasi, harus relevan. Logat yang diucapkan hendaknya disesuaikan dengan asal suku atau daerah, usia, atau status sosial tokoh yang diperankan.
2.                  Ekspresi tubuh dan mimik muka harus disesuaikan dengan dialog. Bila dialog menyatakan kemarahan, maka ekspresi tubuh dan mimik pun harus menunjukkan rasa marah.
3.                  Untuk lebih menghidupkan suasana dan menjadikan dialog lebih wajar dan alamiah, para pemain dapat melakukan improvisasi di luar naskah.


2.      Pementasan naskah drama
Kata drama berasal dari bahasa Yunani, draomai yang berarti berbuat, bertindak, bereaksi. Dalam perkembangan selanjutnya berarti kejadian, risalah, karangan. Drama menurut John E. Dietrich adalah cerita komplik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas, dengan menggunakan percakapan dan gerak dihadapan penonton.
Dari batasan-batasan diatas jelaslah dalam drama terdapat unsur pementasan drama dan unsur lakon drama. Termasuk unsur pementasan drama ialah :
a.       Lakon drama
b.      Pemain ( aktor )
c.       Pentas
d.      Sutradara
e.       Penonton.
Pertunjukan drama dalam arti sesungguhnya tidaklah terjadi kalau salah satu unsurnya tidak ada pemain saja tanpa lakon misalnya tidak dapat mementaskan drama. Begitu juga ada panggung,  penonton, pemain dan sutradara, tapi tanpa lakon sukar menghasilkan drama. Namun demikian, adanya lakon ( cerita drama ) tanpa unsur-unsur yang lain, masih memungkinkan kita menikmati drama yaitu drama untuk dibaca ( drama bacaan ) yang disebut shipley dengan istilah closet drama.

Sebagai cerita sastra, drama memiliki unsur cerita :
a.       Perwatakan
b.      Dialog
c.       Latar
d.      Alur
Dialog-dialog dalam drama biasanya padat, tidak membosankan, jelas terdengar dan tersusun sesuai dengan karakter pelaku. Perwatakan pelaku/aktor harus jelas, perkembangan, hidup dan bergerak seperti manusia. Alurnya terasa singkat, padat, banyak komplik daam adegan-adegan cerita, dengan jalan cerita yang sistematis logis. ( Elmustian Rahman: 2005, 152 ).

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia ( Purwadarminta, 1983);521 ) drama berarti lakon ( komedi, tragedi, dan sebagainya ) yang dipentaskan; sandiwara. Lakon ata drama ini berdasarkan naskan tertulis atau secara improvisasi yang dlam pementasannya diatas panggung disampaikan gerak atau lakon dan percakapan ( dialog ) dengan/ atau tanpa musik dan tari dihadapan penonton. Sedangkan lakon itu sendiri berisi masalah-masalah kehidupan manusia. Drama kata Moulton ialah life presented in action ( kehidupan yang disajikan dalam laku )
Demikian drama ( termasuk juga yang difilmkan ) menyajikan masalah-masalah kehidupan manusia yang terjadi, mungkin sudah dan akan terjadi, meskipun persoalan-persoalan lehidupan manusia yang dipentaskan itu hanyalah imajinatif. Kepandaian para aktor menafsirkan hidup dan kehidupan secara pas, ekspresif dan estetik diatas pentas, membuat lakon drama itu jadi aktual, mirip kehidupan manusia yang sebenarnya yang pernah, akan dan mungkin dialami para penonton. ( Elmustian Rahman: 2005, 154 ).




3.      Penyutradaraan Naskah Drama
Di Indonesia, dapat dikatakan bahwa embrio munculnya penyutradaan adalah karena Maya pimpinan Usman Ismail. Tokoh drama Indonesia ini dapat dikatakan sebagai pencetus fungsi seorang sutradara didalam pementasan drama modern di Indonesia. Di dalam perkembangan selanjutnya, kedudukan sutradara amat menentukan keberhasilan dan kegagalan pementasan menjadi tanggung jawab sepenuhnya seorang sutradara.
Peran sutradara dengan melihat fungsinya saat ini memang amat menentukan di dalam pementasan drama. Ia merupakan seorang pengarah tentang bagaimana pementasan Carus dilakukan. Ia yang bertanggung jawab penuh penginterprestasian naskah ( teks ) yang akan dipentaskan, menentukan corak dan warna pementasan, kemungkinan mendukung suatu pementasan drama. Bahkan tidak jarang, seorang sutradara menguasai secara total suatu pementasan drama. Berdasarkan fungsinya ini dapatlah disebutkan bahwa yang dimaksudkan dengan sutradara adalah seorang yang mengkoordinasikan dan mengarahkan segala unsur pementasan drama ( pemain dan properti ), memberikan penafsiran pokok atau naskah, serta hal-hal lainnya, dengan kecakupannya sehingga mencapai suatu pementasan Beni pertunjukkan drama.
Ada beberapa macam cara dan teknik yang ditempuh seorang sutradara didalam mengelola suatu pementasan. Dari cara-cara sutradara mengelola secara umum ada dua tipe sutradara, yaitu ( 1 ) tipe sutradara yang bertindak sebagai seorang yang menguasai secara penuh para pemainnya, ia mengatur sepenuhnya kemungkinan pementasan. ( 2 ) tipe sutradara yang bertindak sebagai mediator. Sutaradara tipe ini bertindak sebagai pembantu para pemain mengekspresikan dirinya dalam berakting.



Sutradara mempunyai beberapa tugas antara lain adalah sebagai berikut :
1.         Memberikan interpretasi pada teks naskah drama yang akan dipentaskan, memikirkan kemungkinan pemvisualisasian dengan memanfaatkan segala sarana yang memungkinkan untuk mencapai suatu pementasan yang berhasil. Di dalam catatan pementasan yang selayaknya dibuat oleh sutradara minimal tercantum aspek-aspek utama pementasan. Aspek-aspek utama diantara lain adalah hal-hal yang harus terjadi pada setiap adegan, dengan segala peralatan yang diperlukan seperti peristiwa, ilustrasi musik yang dibutuhkan, suasana yang harus tergambarkan, properti yang dibutuhkan, pose pemain, laku dramatik pemain, dan catatan tertentu yang dirasa perlu oleh sutradara.
2.         Menntukan pemain ( casting ), yaitu proses penetapan yang dilakukan sutradara untuk menunjuk para pemainnya memegang tokoh tertentu dan peran tertentu. Bermacam cara dapat dilakukan sutradara untuk menentukan dan menunjuk para pemain.
3.         Latihan, tidak ada pementasan tanpa latihan. Masing-masing sutradara mempunyai cara tersendiri dalam menerapkan latihan. Pada saat latihan, mungkin sutradara melakukan perbaikan atas catatan pementasannya, menciptakan aspek-aspek laku dramatik mempengaruhi pemain, dan atau hal-hal lainnya. ( Hasanuddin, 2009; 199-207 )





BAB III
PENUTUP
A.       SIMPULAN
Dalam aturan bermain drama hal yang harus diketahui adalah membaca dan memahami teks drama, menghayati watak tokoh yang akan diperankan. Kemudian dalam pementasan naskah drama Pertunjukan drama dalam arti sesungguhnya tidaklah terjadi kalau salah satu unsurnya tidak ada pemain saja tanpa lakon misalnya tidak dapat mementaskan drama. Begitu juga ada panggung,  penonton, pemain dan sutradara, tapi tanpa lakon sukar menghasilkan drama. Begitu juga dengan penyutradaraan drama, dengan adaya penyutradaraan drama maka suatu pementasan itu akan berhasil, kedudukan sutradara amat menentukan keberhasilan dan kegagalan pementasan menjadi tanggung jawab sepenuhnya seorang sutradara.

B.       SARAN
Kami dari penulis makalah “ Prosa, Fiksi dan Drama ”, berharap dan sekaligus meminta para para pembaca makalah kami, agar memahami dari setiap makna – makna penting dalam makalah kami setelah pembaca membaca makalah ini, pembaca menjadi bertambah ilmunya serta bisa bermanfaat dalam kehidupan sehari – hari.







DAFTAR PUSTAKA

WS. Hasanuddin, 2009. Drama: Karya Dalam Dua Dimensi Kajian Teori, sejarah dan Analisis. Bandung: Angkasa.
Sastra jendela http://kelasmayaku.wordpress.com/2011/05/08/memerankan-drama/  21:42 senin 2014
Rahman.  Elmustian, 2005. Teori Sastra: Teori Kesusastraan, Pekanbaru: Universitas Riau



makalah arab melayu



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Arab melayu adalah bahasa Indonesia atau Melayu  yang penulisannya di adaptasi dari aksara Arab yang disesuaikan sesuai kaidah penulisan huruf Arab. Dalam ejaan arab indonesia, konsonan-konsonan selalu dituliskan. Sedangkan vokal-vokal dalam tulisan arab kadang-kadang ditulis kadang tidak.
Oleh krena itu, ada aturan-aturan khusus untuk penulisan vokal-vokal itu yang akan dibicarakan kemudian. Maka pada makalah ini penulis telah menguraikan cara-cara dan aturan penulisan pertemuan bunyi vokal tersebut.

1.2  Rumusan Masalah
1.2.1Bagaimana pertemuan bunyi vokal tersebut?
1.3 Tujuan Penulisan
      1.3.1Untuk memahami bagaimana pertemuan bunyi vokal.
1.4 Manfaat Penulisan
      1.4.1 Membantu dan memudahkan kita dalam memahami pertemuan bunyi vokal.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 pertemuan vokal a dengan vokal a
1. Aturan 24
Akhiran –an pada kata dasar yang berakhiran dengan bunyi a di tuliskan dengan nun ( ن  ) dan hamzah di samping kanan atas.
Berikut ini merupakan contoh dari pertemuan huruf vokal a dengan vokal a :
            Buta    : بوتا                                       pembutaan                   : ڤمبوتاءن
            Kata                                                    perkataan                     : ڤركتاءن
            Rasa    : راس                               perasaan                      :ڤراسا ءن
2.2 pertemuan vokal a dengan vokal i
Aturan 25
            Akhiran –i pada kata dasar yang berakhir dengan bunyi a dituliskan dengan ya ( ي ) berhamzah di atasnya.
Contoh :
Kata    → Mengatai                : مڠتايء
Rasa    → merasai                   : مرسايء
Kagum            → Mengagumi            : مڠاڬوميء


Aturan 26
Suku kata tertutup yang berawal bunyi i, yang didahului oleh suku kata terbuka yang berakhiran dengn bunyi a, dituliskan dengan ya ( ي ) berhamzah di atasnya dan diikuti oleh konsonan penutupnya.
Contoh :
La – in             : لائن                                     ba – ik                         : بائك
Ka – il             : كائل                                     ma – in                        : مائن

Aturan 27
Kata yang dituliskan sesuai dengan aturan 26 apabila memperoleh akhiran  -i atau –an, akhiran –i dituliskan dengan ya ( ي ) saja dan akhiran –an dituliskan dengan nun ( ن ).
Contoh :
Kait       mengaiti                : مڠائتئ
Baik       kebaikan                : كبائكن
Kail       mengaili                 : مڠائلئ
Main      permainan              : ڤرمائنن
Baik       memperbaiki          : ممڤربائكئ

2.3 pertemuan vokal a dengan vokal u
            Yang dimaksud dengan pertemuan vokal a dengan u dalam hal ini ialah vokal berdampingan au, bukan diftong au.
Contoh :
1.      Mau →   ma - u                       : au ialah vokal berdampingan
2.      Harimau →  ha - ri – mau       : au ialah diftong

Aturan 28
Bila suku terbuka berbunyi a bertemu dengan suku kata yang berawal dengan bunyi u, maka bunyi u itu di tuliskan dengan wau berhamzah di atasnya.
Contoh            :
Mau     -           ma   -   u                      : ماوء
berbau -           ber   -   ba   -  u            : برباوء
maut    -           ma   -   ut                     : ماوءت
bergaul -          ber   -   ga   -  ul           : برڬاوءل

Aturan 29
Akhiran –i atau –an yang di dekatkan pada kata-kata yang mengikuti aturan 28 di atas, di tuliskan dengan ya ( ي ) saja dan nun ( ن ) saja untuk akhiran –i.
Contoh :
Gaul            pergaulan         : ڤرڬاوءلن
Naung         menaungi         : مناوءڬئ
Jauh             berjauhan         : برجاوءهن
Raut            merauti            : مراوءتئ

2.4  pertemuan vokal u dengan i dan vokal i dengan u ( ui dan iu )
Aturan 30
Vokal berdampingan ui dan iu masing-masing dituliskan dengan ya ( ي ) atau wau ( و ) tidak berhamzah.
Contoh :
Lalu                   melalui             : مللوى
Baharu               membaharui     : ممبهروى
Tiung                 تيوڠ
Hiu                    هيو
Beliung              بليوڠ

Catatan :
Akhiran –i atau –an pada kata-kata seperti tersebut dalam aturan 30, dituliskan dengan ya ( ي ) atau nun ( ن ) saja.
Contoh :
Tiup                   tiupan              : تيوڤن
Buih                  membuihi        : ممبويئ


BAB III
PENUTUP
2.1      Kesimpulan
Dalam ejaan arab indonesia, konsonan-konsonan selalu dituliskan. Sedangkan vokal-vokal dalam tulisan arab kadang-kadang ditulis kadang tidak. Oleh krena itu, ada aturan-aturan khusus untuk penulisan vokal-vokal itu yang akn dibicarakan kemudian.

2.2      Saran
Ketika menuliskan tuliskan Arab Melayu hendaklah kita mempehatikan tata cara dan aturan penulisannya, sehingga tulisan yang kita hasilkan bisa dimengerti oleh orang lain.





DAFTAR PUSTAKA
Surana, f.x, dkk. 1980. Menulis dan Membaca Huruf Arab Indonesia. Solo: Rabindo.