BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Arab melayu adalah bahasa Indonesia
atau Melayu yang penulisannya di adaptasi dari aksara Arab yang
disesuaikan sesuai kaidah penulisan huruf Arab. Dalam ejaan arab indonesia,
konsonan-konsonan selalu dituliskan. Sedangkan vokal-vokal dalam tulisan arab
kadang-kadang ditulis kadang tidak.
Oleh krena itu, ada aturan-aturan
khusus untuk penulisan vokal-vokal itu yang akan dibicarakan kemudian. Maka
pada makalah ini penulis telah menguraikan cara-cara dan aturan penulisan
pertemuan bunyi vokal tersebut.
1.2
Rumusan Masalah
1.2.1Bagaimana pertemuan bunyi vokal tersebut?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1Untuk memahami bagaimana pertemuan bunyi vokal.
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Membantu dan memudahkan kita dalam memahami pertemuan bunyi
vokal.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
pertemuan vokal a dengan vokal a
1. Aturan
24
Akhiran –an pada kata dasar yang berakhiran dengan bunyi a di
tuliskan dengan nun ( ن ) dan hamzah di samping kanan atas.
Berikut ini merupakan contoh dari pertemuan huruf vokal a dengan
vokal a :
Buta : بوتا pembutaan : ڤمبوتاءن
Kata perkataan
:
ڤركتاءن
Rasa : راس perasaan :ڤراسا ءن
2.2 pertemuan vokal a dengan vokal i
Aturan 25
Akhiran
–i pada kata dasar yang berakhir dengan bunyi a dituliskan dengan ya ( ي ) berhamzah
di atasnya.
Contoh :
Kata →
Mengatai : مڠتايء
Rasa →
merasai : مرسايء
Kagum →
Mengagumi : مڠاڬوميء
Aturan 26
Suku kata tertutup yang berawal bunyi i,
yang didahului oleh suku kata terbuka yang berakhiran dengn bunyi a, dituliskan
dengan ya ( ي ) berhamzah di atasnya dan diikuti oleh konsonan
penutupnya.
Contoh :
La – in :
لائن ba – ik : بائك
Ka – il :
كائل ma – in :
مائن
Aturan 27
Kata yang dituliskan sesuai dengan aturan
26 apabila memperoleh akhiran -i atau
–an, akhiran –i dituliskan dengan ya ( ي ) saja dan akhiran –an dituliskan
dengan nun ( ن ).
Contoh :
Kait → mengaiti :
مڠائتئ
Baik → kebaikan :
كبائكن
Kail → mengaili :
مڠائلئ
Main → permainan :
ڤرمائنن
Baik → memperbaiki :
ممڤربائكئ
2.3 pertemuan vokal a
dengan vokal u
Yang
dimaksud dengan pertemuan vokal a dengan u dalam hal ini ialah vokal
berdampingan au, bukan diftong au.
Contoh :
1. Mau →
ma - u : au
ialah vokal berdampingan
2. Harimau →
ha - ri – mau : au ialah
diftong
Aturan 28
Bila suku terbuka berbunyi a bertemu dengan
suku kata yang berawal dengan bunyi u, maka bunyi u itu di tuliskan dengan wau
berhamzah di atasnya.
Contoh
:
Mau - ma
- u : ماوء
berbau - ber -
ba - u :
برباوء
maut - ma
- ut : ماوءت
bergaul - ber -
ga - ul :
برڬاوءل
Aturan 29
Akhiran –i atau –an yang di dekatkan pada
kata-kata yang mengikuti aturan 28 di atas, di tuliskan dengan ya ( ي )
saja dan nun ( ن ) saja untuk akhiran –i.
Contoh :
Gaul → pergaulan : ڤرڬاوءلن
Naung → menaungi :
مناوءڬئ
Jauh → berjauhan : برجاوءهن
Raut → merauti :
مراوءتئ
2.4 pertemuan vokal u dengan i dan vokal i
dengan u ( ui dan iu )
Aturan 30
Vokal berdampingan ui dan iu masing-masing dituliskan
dengan ya ( ي ) atau wau ( و ) tidak berhamzah.
Contoh :
Lalu → melalui :
مللوى
Baharu → membaharui : ممبهروى
Tiung → تيوڠ
Hiu → هيو
Beliung → بليوڠ
Catatan :
Akhiran –i atau –an pada kata-kata seperti tersebut
dalam aturan 30, dituliskan dengan ya ( ي ) atau nun ( ن ) saja.
Contoh :
Tiup → tiupan :
تيوڤن
Buih → membuihi :
ممبويئ
BAB III
PENUTUP
2.1 Kesimpulan
Dalam ejaan
arab indonesia, konsonan-konsonan selalu dituliskan. Sedangkan vokal-vokal
dalam tulisan arab kadang-kadang ditulis kadang tidak. Oleh krena itu, ada
aturan-aturan khusus untuk penulisan vokal-vokal itu yang akn dibicarakan
kemudian.
2.2 Saran
Ketika menuliskan tuliskan Arab Melayu
hendaklah kita mempehatikan tata cara dan aturan penulisannya, sehingga tulisan
yang kita hasilkan bisa dimengerti oleh orang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Surana, f.x, dkk. 1980. Menulis dan
Membaca Huruf Arab Indonesia. Solo: Rabindo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar