BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Unsur suatu genre sastra drama mempunyai kekhususan dibanding genre
puisi ataupun genra fiksi. Kesan dan kesadaran terhadap drama lebih difokuskan
kepada bentuk karya yang bereaksi langsung secara konkret. Kekhususan drama
disebabkan oleh tujuan drama pengarangnya tidak hanya berhenti sampai pada
tahap pembeberan peristiwa untuk dinikmati secara artistik imajinatif oleh para
pembacanya, namun mesti diteruskan untuk kemungkinan dapat dipertontonkan dalam
suatu penampilan gerak dan perilaku konkret yang dapat disaksikan kekhususannya
inilah yang kemudian menyebabkan pengertian drama sebagai suatu genre sastra
lebih terfokus sebagai suatu karya yang berorientasi kepada seni pertunjukan.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
aturan bermain drama?
2.
Bagaimana
pementasan naskah drama?
3.
Bagaimana
penyutradaraan naskah drama?
C.
Tujuan
1.
Menjelaskan
aturan bermain drama.
2.
Menjelaskan
pementasan naskah drama.
3.
Menjelaskan
penyutradaraan drama.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Drama
Drama
atau teater juka ditinjau dari beberapa aspek adalah salah satu genre sastra. Namun, perlu dijelaskan bahwa bedanya dengan bentuk lain ( prosa dan fiksi ), drama
bukanlah sekedar teks yang dipentaskan dimainkan dilakonkan karena itu
penikmatannya melalui proses menyaksikan, menonton pementasan drama.
Drama
termasuk ragam sastra karena ceritanya bersifat imajinatif dalam bentuk naskah
drama. Sebagai suatu bentuk seni, drama merupakan seni kompleks, karena
terkandung, terkait, dan ditunjang oleh seni-seni yang lain; seni musik, seni
arsitektur dan seni dekorasi terutama pada tata panggung, seni ukir untuk
topeng, seni hias untuk tata wajah dan tata busana, seni tari, dan dukungan
tata cahaya. ( Elmustian Rahman: 2005, 150 )
1. Aturan
bermain drama
Memerankan
drama berarti mengaktualisasikan segala hal yang terdapat di dalam naskah drama
ke dalam lakon drama di atas pentas. Aktivitas yang menonjol dalam memerankan
drama ialah dialog antartokoh, monolog, ekspresi mimik, gerak anggota badan,
dan perpindahan letak pemain.
Pada saat melakukan
dialog ataupun monolog, aspek-aspek suprasegmental (lafal, intonasi, nada atau
tekanan dan mimik) mempunyai peranan sangat penting. Lafal yang jelas, intonasi
yang tepat, dan nada atau tekanan yang mendukung penyampaian isi/pesan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memerankan
drama.
1. Membaca
dan Memahami Teks Drama
Sebelum
memerankan drama, kegiatan awal yang perlu kita lakukan ialah membaca dan
memahami teks drama. Teks
drama adalah karangan atau tulisan yang berisi nama-nama tokoh,
dialog yang diucapkan, latar panggung yang dibutuhkan, dan pelengkap lainnya
(kostum, lighting, dan musik pengiring). Dalam teks drama, yang diutamakan
ialah tingkah laku (acting) dan dialog (percakapan antartokoh) sehingga
penonton memahami isi cerita yang dipentaskan secara keseluruhan. Oleh karena
itu, kegiatan membaca teks drama dilakukan sampai dikuasainya naskah drama yang
akan diperankan.
Dalam teks drama yang
perlu dipahami ialah pesan-pesan dan nilai-nilai yang dibawakan oleh pemain.
Dalam membawakan pesan dan nilai-nilai itu, pemain akan terlibat dalam konflik
atau pertentangan. Jadi, yang perlu dibaca dan pahami ialah rangkaian peristiwa
yang membangun cerita dan konflik-konflik yang menyertainya.
2. Menghayati
Watak Tokoh yang akan Diperankan
Sebelum memerankan
sebuah drama, kita perlu menghayati watak tokoh. Apa yang perlu kita lakukan
untuk menghayati tokoh? Watak tokoh dapat diidentifikasi melaui (1) narasi
pengarang, (2) dialog-dialog dalam teks drama, (3) komentar atau ucapan
tokoh lain terhadap tokoh tertentu, dan (4) latar yang mengungkapkan watak
tokoh.
Melalui menghayati
yang sungguh-sungguh, kamu dapat memerankan tokoh tertentu dengan baik. Watak
seorang tokoh dapat diekspresikan melalui cara sang tokoh memikirkan dan
merasakan, bertutur kata, dan bertingkah laku, seperti dalam kehidupan
sehari-hari di masyarakat. Artinya, watak seorang tokoh bisa dihayati mulai
dari cara sang tokoh memikirkan dan merasakan sesuatu, cara tokoh
bertutur kata dengan tokoh lainnya, dan cara tokoh bertingkah laku.
Hal yang paling penting dalam memerankan drama adalah
dialog. Oleh karena itu, seorang pemain harus mampu:
1. Mengucapkan dialog dengan lafal yang jelas.
Seorang pemain
dikatakan mampu bertutur dengan jelas apabila setiap suku kata yang
diucapkannya dapat terdengar jelas oleh penonton sampai deretan paling
belakang. Selain jelas, pemain harus mampu mengucapkan dialog secara wajar.
Perasaan dari masing-masing pemain pun harus bisa ditangkap oleh penonton.
2. Membaca dialog dengan memperhatikan kecukupan
volume suara.
Seorang pemain harus
bisa menghasilkan suara yang cukup keras. Ketika membaca dialog, suara pemain
harus bisa memenuhi ruangan yang dipakai untuk pementasan. Suara pemain tidak
hanya bisa didengar ketika panggung dalam keadaan sepi, juga ketika ada
penonton yang berisik.
3. Membaca dialog dengan tekanan yang tepat.
Kalimat mengandung
pikiran dan perasaan. Kedua hal ini dapat ditangkap oleh orang lain bila
pembicara (pemain) menggunakan tekanan secara benar. Tekanan dapat menunjukkan
bagian-bagian kalimat yang ingin ditonjolkan.
Ada 3 macam tekanan yang biasa digunakan dalam
melisankan naskah drama.
1. tekanan dinamik
yaitu
tekanan yang diberikan terhadap kata atau kelompok kata tertentu dalam kalimat,
sehingga kata atau kelompok kata tersebut terdengar lebih menonjol dari
kata-kata yang lain. Misalnya, ”Engkau boleh pergi. Tapi, tanggalkan
bajumu sebagai jaminan!” (kata yang dicetak miring menunjukkan
penekanan dalam ucapan).
2. tekanan tempo
yaitu
tekanan pada kata atau kelompok kata tertentu dengan jalan memperlambat
pengucapannya. Kata yang mendapat tekanan tempo diucapkan seperti mengeja suku
katanya. Misalnya, ”Engkau boleh pergi. Tapi, tang-gal-kan ba-ju-mu sebagai
jaminan!” Pengucapan kelompok kata dengan cara memperlambat seperti itu
merupakan salah satu cara menarik perhatian untuk menonjolkan bagian yang
dimaksud.
3. tekanan
nada
yaitu nada lagu yang
diucapkan secara berbeda-beda untuk menunjukkan perbedaan keseriusan orang yang
mengucapkannya. Misalnya, ”Engkau boleh pergi. Tapi, tanggalkan bajumu sebagai
jaminan!” bisa diucapkan dengan tekanan nada yang menunjukkan ”keseriusan” atau
”ancaman” jika diucapkan secara tegas mantap. Akan tetapi, kalimat tersebut
bisa juga diucapkan dengan nada bergurau jika pengucapannya disertai dengan
senyum dengan nada yang ramah.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyampaikan dialog drama adalah:
1.
penggunaan bahasa,
baik secara pelafalan maupun intonasi, harus relevan. Logat yang diucapkan
hendaknya disesuaikan dengan asal suku atau daerah, usia, atau status sosial tokoh
yang diperankan.
2.
Ekspresi tubuh dan
mimik muka harus disesuaikan dengan dialog. Bila dialog menyatakan kemarahan,
maka ekspresi tubuh dan mimik pun harus menunjukkan rasa marah.
3.
Untuk lebih
menghidupkan suasana dan menjadikan dialog lebih wajar dan alamiah, para pemain
dapat melakukan improvisasi di luar naskah.
2. Pementasan
naskah drama
Kata drama berasal dari bahasa Yunani, draomai yang
berarti berbuat, bertindak, bereaksi. Dalam perkembangan selanjutnya berarti
kejadian, risalah, karangan. Drama menurut John E. Dietrich adalah cerita
komplik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas, dengan
menggunakan percakapan dan gerak dihadapan penonton.
Dari batasan-batasan diatas jelaslah dalam drama
terdapat unsur pementasan drama dan unsur lakon drama. Termasuk unsur
pementasan drama ialah :
a. Lakon
drama
b. Pemain
( aktor )
c. Pentas
d. Sutradara
e. Penonton.
Pertunjukan
drama dalam arti sesungguhnya tidaklah terjadi kalau salah satu unsurnya tidak
ada pemain saja tanpa lakon misalnya tidak dapat mementaskan drama. Begitu juga
ada panggung, penonton, pemain dan
sutradara, tapi tanpa lakon sukar menghasilkan drama. Namun demikian, adanya
lakon ( cerita drama ) tanpa unsur-unsur yang lain, masih memungkinkan kita menikmati
drama yaitu drama untuk dibaca ( drama bacaan ) yang disebut shipley dengan
istilah closet drama.
Sebagai
cerita sastra, drama memiliki unsur cerita :
a. Perwatakan
b. Dialog
c. Latar
d. Alur
Dialog-dialog
dalam drama biasanya padat, tidak membosankan, jelas terdengar dan tersusun
sesuai dengan karakter pelaku. Perwatakan pelaku/aktor harus jelas,
perkembangan, hidup dan bergerak seperti manusia. Alurnya terasa singkat,
padat, banyak komplik daam adegan-adegan cerita, dengan jalan cerita yang
sistematis logis. ( Elmustian Rahman: 2005, 152 ).
Dalam
Kamus Umum Bahasa Indonesia ( Purwadarminta, 1983);521 ) drama berarti lakon (
komedi, tragedi, dan sebagainya ) yang dipentaskan; sandiwara. Lakon ata drama
ini berdasarkan naskan tertulis atau secara improvisasi yang dlam pementasannya
diatas panggung disampaikan gerak atau lakon dan percakapan ( dialog ) dengan/
atau tanpa musik dan tari dihadapan penonton. Sedangkan lakon itu sendiri
berisi masalah-masalah kehidupan manusia. Drama kata Moulton ialah life
presented in action ( kehidupan yang disajikan dalam laku )
Demikian
drama ( termasuk juga yang difilmkan ) menyajikan masalah-masalah kehidupan
manusia yang terjadi, mungkin sudah dan akan terjadi, meskipun
persoalan-persoalan lehidupan manusia yang dipentaskan itu hanyalah imajinatif.
Kepandaian para aktor menafsirkan hidup dan kehidupan secara pas, ekspresif dan
estetik diatas pentas, membuat lakon drama itu jadi aktual, mirip kehidupan
manusia yang sebenarnya yang pernah, akan dan mungkin dialami para penonton. (
Elmustian Rahman: 2005, 154 ).
3. Penyutradaraan
Naskah Drama
Di Indonesia, dapat dikatakan bahwa embrio munculnya
penyutradaan adalah karena Maya pimpinan Usman Ismail. Tokoh drama Indonesia
ini dapat dikatakan sebagai pencetus fungsi seorang sutradara didalam
pementasan drama modern di Indonesia. Di dalam perkembangan selanjutnya,
kedudukan sutradara amat menentukan keberhasilan dan kegagalan pementasan
menjadi tanggung jawab sepenuhnya seorang sutradara.
Peran sutradara dengan melihat fungsinya saat ini
memang amat menentukan di dalam pementasan drama. Ia merupakan seorang pengarah
tentang bagaimana pementasan Carus dilakukan. Ia yang bertanggung jawab penuh
penginterprestasian naskah ( teks ) yang akan dipentaskan, menentukan corak dan
warna pementasan, kemungkinan mendukung suatu pementasan drama. Bahkan tidak
jarang, seorang sutradara menguasai secara total suatu pementasan drama.
Berdasarkan fungsinya ini dapatlah disebutkan bahwa yang dimaksudkan dengan
sutradara adalah seorang yang mengkoordinasikan dan mengarahkan segala unsur
pementasan drama ( pemain dan properti ), memberikan penafsiran pokok atau
naskah, serta hal-hal lainnya, dengan kecakupannya sehingga mencapai suatu
pementasan Beni pertunjukkan drama.
Ada beberapa macam cara dan teknik yang ditempuh
seorang sutradara didalam mengelola suatu pementasan. Dari cara-cara sutradara
mengelola secara umum ada dua tipe sutradara, yaitu ( 1 ) tipe sutradara yang
bertindak sebagai seorang yang menguasai secara penuh para pemainnya, ia
mengatur sepenuhnya kemungkinan pementasan. ( 2 ) tipe sutradara yang bertindak
sebagai mediator. Sutaradara tipe ini bertindak sebagai pembantu para pemain
mengekspresikan dirinya dalam berakting.
Sutradara mempunyai beberapa tugas antara lain
adalah sebagai berikut :
1.
Memberikan interpretasi pada teks naskah
drama yang akan dipentaskan, memikirkan kemungkinan pemvisualisasian dengan
memanfaatkan segala sarana yang memungkinkan untuk mencapai suatu pementasan
yang berhasil. Di dalam catatan pementasan yang selayaknya dibuat oleh
sutradara minimal tercantum aspek-aspek utama pementasan. Aspek-aspek utama
diantara lain adalah hal-hal yang harus terjadi pada setiap adegan, dengan
segala peralatan yang diperlukan seperti peristiwa, ilustrasi musik yang
dibutuhkan, suasana yang harus tergambarkan, properti yang dibutuhkan, pose
pemain, laku dramatik pemain, dan catatan tertentu yang dirasa perlu oleh
sutradara.
2.
Menntukan pemain ( casting ), yaitu
proses penetapan yang dilakukan sutradara untuk menunjuk para pemainnya
memegang tokoh tertentu dan peran tertentu. Bermacam cara dapat dilakukan
sutradara untuk menentukan dan menunjuk para pemain.
3.
Latihan, tidak ada pementasan tanpa
latihan. Masing-masing sutradara mempunyai cara tersendiri dalam menerapkan
latihan. Pada saat latihan, mungkin sutradara melakukan perbaikan atas catatan
pementasannya, menciptakan aspek-aspek laku dramatik mempengaruhi pemain, dan
atau hal-hal lainnya. ( Hasanuddin, 2009; 199-207 )
BAB
III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Dalam aturan bermain drama hal yang harus diketahui
adalah membaca dan memahami teks drama, menghayati watak tokoh yang akan
diperankan. Kemudian dalam pementasan naskah drama Pertunjukan drama dalam arti
sesungguhnya tidaklah terjadi kalau salah satu unsurnya tidak ada pemain saja
tanpa lakon misalnya tidak dapat mementaskan drama. Begitu juga ada
panggung, penonton, pemain dan
sutradara, tapi tanpa lakon sukar menghasilkan drama. Begitu juga dengan
penyutradaraan drama, dengan adaya penyutradaraan drama maka suatu pementasan
itu akan berhasil, kedudukan sutradara amat menentukan keberhasilan dan
kegagalan pementasan menjadi tanggung jawab sepenuhnya seorang sutradara.
B. SARAN
Kami dari penulis
makalah “
Prosa, Fiksi dan Drama ”,
berharap dan sekaligus meminta para para pembaca makalah kami, agar memahami dari setiap makna – makna
penting dalam makalah kami setelah pembaca membaca makalah ini, pembaca menjadi
bertambah ilmunya serta bisa bermanfaat dalam kehidupan sehari – hari.
DAFTAR PUSTAKA
WS. Hasanuddin, 2009. Drama: Karya Dalam Dua Dimensi Kajian Teori,
sejarah dan Analisis. Bandung: Angkasa.
Sastra jendela http://kelasmayaku.wordpress.com/2011/05/08/memerankan-drama/ 21:42 senin 2014
Rahman. Elmustian, 2005. Teori Sastra: Teori
Kesusastraan, Pekanbaru: Universitas Riau
Tidak ada komentar:
Posting Komentar