Kamis, 20 November 2014

ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA DALAM CERAMAH UST, ARIFIN ILHAM (TIAP-TIAP ORANG YANG MATI HUSNULKHOTIMAH)



ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA DALAM CERAMAH UST, ARIFIN ILHAM (TIAP-TIAP ORANG YANG MATI HUSNULKHOTIMAH)
NAMA                       : JUSMIDAR
KELAS                      : 5 A
NPM                           : 126211518
1.      TATARAN FONOLOGI
a.       Perubahan fonem konsonan
Dalam ceramah yang disampaikan oleh Ust, Arifin Ilham adanya suatu kesalahan pengucapan yaitu perubahan fonem /d/ menjadi fonem /t/ yang pengucapannya /jatwal/ seharusnya diucapkan /jadwal/. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI: 555: 2008) jadwal adalah n pembagian waktu bedasarkan rencana pengaturan irutan kerja; daftar atau tabel kegiatan atau rencana kegiatan dng pembagian waktu pelaksanaan yang terperinci; -- peraturan itu telah disetujui oleh pimpinan; sedangkan jatwal tidak mempunyai arti di dalam kamus.
b.      Perubahan fonem vokal
Kata “mabok” merupakan suatu kesalahan yaitu adanya perubahan fonem /u/ menjadi fonem /o/ sehingga terjadi suatu kesalahan. Dalam pengucapannya yang benar adalah mengucapkan kata “mabuk” bukan “mabok”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI: 852: 2008) mabuk adalah a 1 berasa pening atau hilang kesadaran (krn terlalu banyak minum minuman keras, makan gadung, dsb); 2 berbuat diluar kesadaran; lupa diri; 3 ki sangat gemar (suka); 4 ki tergila-gila; sangat berahi.
c.       Penghilangan fonem vokal
Dalam ceramah yang disampaikan oleh Ust, tersebut adanya suatu kesalahan yaitu tentang pengucapannya “diberkahi leh Allah” dalam kalimat tersebut adanya suatu kesalahan yang terletak pada kata “leh” yang seharusnya diucapkan “oleh”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI: 980: 2008) oleh adalah p 1 kata penghubung untuk menandai pelaku;  rumah ini dibeli – ayahnya bulan lalu;  tidak teringat – ibuku bahwa hari ini hari ulang tahun anaknya; 2 sebab; karena: tidak lapuk – hujan; binasa—perbuatannya sendiri; 3 akibat; -- kurang hati-hatinya ia jatuh;

2.      TATARAN MORFOLOGI
a.       Penghilangan prefiks meng-
Pada pengucapan Ust, Arifin Ilham adanya suatu kesalahan yaitu pada pengucapan “lakui” yang seharusnya diucap “melakukan”. Kata dasar “melakukan adalah “laku” yang mana dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI: 775: 2008) laku adalah 1 n perbuatan; gerak-gerik; tindakan; cara menjalankan atau berbuat; 2 a laris (barang dagangan); sudah terjual; 3 a boleh di pakai (tt uang, karcis, dsb); sedangkan melakukan adalah v 1 mengerjakan (menjalankan dsb); 2 mengadakan (suatu perbuatan, tindakan dsb); 3 melaksanakan; mempraktikkan; menunaikan;

3.      TATARAN SINTAKSIS
a.       Susunan kata yng tidak tepat
Pada kalimat “ karakteristik orang-orang yang beriman paham benar-benar” adanya suatu kesalahan yaitu adanya susunan kata yang tidak tepat. Hal tersebut berawal dari terjemahan harfiah dari bahasa asing itu ke dalam bahasa Indonesia. Kaidah bahasa Indonesia dengan bahasa asing yang berbeda tersebut menyebabkan terjadi kesalahan berbahasa. Jadi bila diperbaiki menjadi kalimat yang baik adalah “karakteristik orang-orang yang beriman benar-benar paham”.
b.      Penjamakan yang ganda
Dalam penggunaan bahasa sehari-hari kadang-kadang orang salah menggunakan bentuk jamak dalam bahasa Indonesia, sehingga terjadi bentuk yang rancu atau kacau. Seperti yang diucapkan oleh Ust. Arifin Ilham dalam ceramahnya yaitu “selama-lama-lamanya” dalam kalimat tersebut adanya suatu kesalahan tentang penjamakan yang ganda. Dalam sebuah kalimat untuk penanda jamak sebuah kata cukup satu penanda saja. Jika sudah terdapat penanda jamak tidak perlu kata tersebut diulang atau jika sudah diulang tidak perlu menggunakan penanda jamak. Jadi bisa diperbaiki seperti “selama-lamanya”.
c.       Penggunaan istilah asing
Pengguna bahasa Indonesia yang memiliki kemahiran menggunakan bahasa asing tertentu sering menyelipkan istilah asing dalam pembicaraan atau tulisannya. Kemungkinannya adalah pemakai bahasa itu ingin memperagakan kebolehannya atau bahkan ingin memperlihatkan kesarjanaanya atau keintelektualannya pada khalayak. Padahal kita tidak boleh mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing. Seperti yang diucapkan oleh Ust. Arifin Ilham dalam ceramahnya yaitu “one by one kematian itu akan dilewati”. Dalam kalimat tersebut adanya suatu kesalahan yaitu penambahan bahasa asing dalam kalimat bahasa Indonesia. Kalimat tersebut belum tentu dipahami oleh orang yang berpendidikan rendah seperti halnya orang yang memiliki pendidikan yang tinggi. Jadi, kalimat tersebut bisa diperbaiki seperti “ satu persatu kematian itu akan dilewati”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar