Kamis, 20 November 2014

ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA DALAM TATARAN MORFOLOGI




Nama              : jusmidar
Kelas               : 5/A
Npm                : 126211518

ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA DALAM TATARAN MORFOLOGI

                        Dalam kenyataan berbahasa masih sering kita jumpai bentukan kata yang menyimpang dari kaidah. Baik ragam tulis maupun ragam lisan dapat terjadi kesalahan berbahasa dalam pembentukan kata atau tataran morfologi. Kesalahan berbahasa dalam tataran morfologi disebabkan oleh berbagai hal. Klasifikasi kesalahan berbahasa dalam tataran morfologi antara lain :
a.       Penghilangan afiks
b.      Bunyi yang seharusnya luluh tetapi tidak diluluhkan
c.       Peluluhan bunyi yang seharusnya tidak luluh
d.      Penggantian morf
e.       Penyingkatan morf mem-, men-, meng-, meny-, dan menge-.
f.       Peemakaian afiks yang tidak tepat
g.      Penentuan bentuk dasar yang tidak tepat
h.      Penempatan afiks yang tidak tepat pada gabungan kata
i.        Pengulangan kata majemuk yang tidak tepat


1.      Penyingkatan morf-
Dalam majalah Aneka Yess  terdapat penghilangan prefiks meng-pada kalimat “lagi jalan bareng tiba-tiba dia ngilang” ( hal 10 ), pada kata ngilang tersebutlah adanya suatu penghilangan prefiks yang seharusnya “ menghilang “. “menghilang” kata dasarnya adalah “hilang” yang mana dalam kamus besar bahasa indonesia ( KBBI; 498 ) berarti tidak ada lagi; lenyap; tidak kelihatan. Sedangkan kata “menghilang” ( KBBI; 499 )  yang sudah penambahan prefiks meng-  yaitu melenyapkan diri; menjadi tidak kelihatan lagi; tidak memperlihatkan diri lagi. Jadi, kalimat yang benar adalah “lagi jalan bareng tiba-tiba dia menghilang”.

2.      Penyingkatan morf meny-
Kalimat “ padahal itu nyakitin dirinya sendiri”  mengalami suatu penyingkatan morf meny- yaitu pada kata “nyakitin”. Yang seharusnya ditulis yaitu “menyakitkan”. Kata dasar “menyakitkan” yaitu “sakit” dalam kamus besar bahasa indonesia ( KBBI; 1204 ) mempunyai arti “berasa tidak nyaman  ditubuh atau bagian tubuh karena merasa sesuatu (demam, sakit perut dan lain sebagainya). Sedangkan yang sudah mengalami penambahan prefiks meny- yaitu “menyakitkan” dalam kamus besar bahasa indonesia ( KBBI; 1205 ) adalah “menjadikan( menyebabkan ) sakit.  Jadi kalimat yang benar adalah “padahal itu menyakitkandirinya sendiri”.

3.      Penyingkatan morf men-
Dalam kalimat “Malah sebenarnya RAN ngebuat lagu itu karena gemes ngeliat para cewek yang nggak berani menunjukkan cintanya”, mengalami suatu penyingkatan men- menjadi “ng” yang seharusnya “membuat” menjadi “ngebuat”. Kata dasar “membuat” yaitu “buat’ yang mana dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI; 213 ), adalah 1. v 1. Kerjakan; lakukan, 2. Bikin; sedangkan yang mengalami penambahan prefiks “membuat” adalah v 1. Menciptakan ( menjadikan; menghasilkan; ) membikin; 2. Melakukan; mengerjakan; 3. Menggunakan ( untuk ); memakai ( untuk ); 4. Menyebabkan; mendatangkan;





4.      Penyingkatan morf men-
Terkadang tanpa disengaja kita mengucapkan kata-kata itu mengalami suatu kesalahan, ada juga  suda tahu itu salah tapi juga sering diucapkan tanpa ada niat untuk memperbaikinya. Termasuk contoh berikut yaitu “Jadi kita bakal ngedukung banget segala sesuatu yang bisa bermanfaat”. Kata ngedukung seharusnya tidak diucapkan seperti itu namun karena itu semua sudah jadi kebiasaan semuanya sulit untuk dirubah. Kata ngedukung seharusnya adalah “mendukung”  yang mana kata dasarnya adalah dukung. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI; 346) dukung adalah v. Duduk dipunggung atau di pinggang orang; sedangkan mendukung adalah v 1. Membawa sesuatu atau seseorang diatas punggung; menggendong;

5.      Penyingkatan morf meny-
Pada kalimat “Kita pasti nyesel seumur hidup karena dia nggak pernah tau apa yang kita rasain” terdapat suatu penyingkatan pada kata nyesal, yang seharusnya “menyesal”. Kata dasar menyesal yaitu “sesal” yang mana dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI; 1292 ) adalah n. Perasaan tidak senang ( susah, kecewa, dsb ) karena telah berbuat tidak baik ( dosa, kesalahan, dsb ). Sedangkan yang menggunakan morf meny- menjadi menyesal yaitu v. Merasa tidak senang atau tidak bahagia (susah, kecewa, dsb) karena (telah melakukan) sesuatu yang kurang baik (dosa, kesalahan, dsb).
6.      Penyingkatan morf meny-
Kata nyiapain dalam bahasa indonesia adalah bahasa yang tidak baku karena adanya suatu penyingkatan morf, yang pada dasarnya nyiapin adalah menyiapkan. Kata menyiapkan dasarnya adalah siap yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI; 1298) adalah v 1 sudah disediakan (tinggal memakai atau menggunakan saja); sudah sedia: makanan sudah; segala alat perkakasnya sudah- semuanya; 2 sudah selesai (dibuat atau dikerjakan): akhir bulan ini gedung itu- semuanya; rumah makan buat pekerja sudah hampir- 3 sudah bersedia (untuk); anak-anak kita sudah-untuk  menempuh ujian; Tentara Nasional Indonesia- sedia menghadapi segala kemungkinan; 4 (dl aba-aba berarti) berdiri tegak dan mengambil sikap pada waktu berbaris: -maju jalan-; 5 jaga baik-baik; kedengaran bunyi kentungan dan teriakan; 6 Olr aba-aba atau seruan kepada para pelari dsb bahwa pemberangkatann akan segera dimulai (dalam perlombaan lari atau jalan kaki); sedangkan kata menyiapkan adalah v 1 menyediakan: ia-  sarapan bagi keluarganya; 2 mengatur (membereskan) segala sesuatu (untuk): kami – barang-barang yang akan dibawa; 3 meyelesaikan; mengerjakan hingga selesai; ia diberi waktu seminggu untuk – laporan; 4 mengadakan sesuatu untuk; membentuk (mengurus dsb) untuk; - pramuka indonesia menjadi tenaga pembangunan bangsa; 5 mengusahakan supaya bersiap; memberi perintah supaya bersiap sedia; mereka- segala perlindungan jika ada tanda bahaya;
7.      Penyingkatan morf men-
Kata ngedekatin diatas adalah kata yang tidak baku karena adanya suatu penyingkatan morf- dari mendekatkan menjadi ngedekatin. Kata dasar mendekatkan adalah dekat yang mana dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI; 305) adalah a 1 pendek, tidak jauh (jarak atau antaranya): tinggalnya- dr sini; 2 hampir; sudah-malam; 3 behampiran (dengan): rumahnya- rumah saya: 4 akrab; rapat ( tt hubungan persahabatan, persaudaraan dsb): pertemuan itu hanya dihadiri oleh sahabat- nya; dia itu masih- saudara – saya; 5 menjelang: ia baru pulang – dinihari; - dapat ditunjal, jauh dapat ditunjuk, perkataan atau pengakuan yang dapat dibuktikan dengan kebenarannya; - - tak tercapai jauh tak berantara, pb menginginkan sesuatu, tetapi tidak mampu untuk mendapatkannya; sedangkan kata yang sudah penambahan morf men- menjadi men.de.kat.kan adalah v menjadikan dekat (berdekatan); mambawa dsb supaya berhampiran (berdekatan); mendampingkan: anak itu- mulutnya ketelinga ibunya untuk membisikkan sesuatu;
8.      Penyingkatan morf-
Kata ngeliat adanya suatu penyingkatan morf- yang mana kata ngeliat seharusnya melihat. Kata ngeliat tersebut adalah kata yang tidak baku yang tidak sesuai dengan Ejaan Yang Tidak disempurnakan. Kata yang bakunya adalah melihat. Selain itu kata dasar dari melihat yaitu lihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI; 826)  adalah li.hat v meelihat; sedangkan kata melihat yaitu v 1 menggunakan mata untuk memandang; (memperhatikan): kepala desa – rakyat membersihkan selokan; 2 menonton: nanti malam kami akan – pertandingan tinju; 3 mengetahui; membuktikan: saya ingin – sampai dimana kemampuannya; 4 menilik; - gelagatnya, kedatangan mereka mempunyai maksud yang kurang baik; 5 meramalkan; seorang ahli nujum atau astrolog dapat – dapat nasib seseorang; 6 menengok; (orang sakit); menjenguk: kami merencanakan untuk – kakek di rumah sakit;
9.      Penyingkatan morf- men-
Kata nolak adalah kata yang tidak baku karena tidak sesuai dengan Ejaan Yang tidak Disempurnakan. Kata nolak berasal dari kata tolak kemudian mendapatkan prefiks men- sehingga menjadi menolak. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI; 14770) tolak adalah v sorong;dorong. Sedangkan yang sudah mengalami penambahan prefiks me- menjadi menolak adalah v 1 mendorong; menyorongkan; mendesak ke depan (ke samping): ia – temannya sehingga jatuh terjungkal; 2 mencegah (bahaya dsb); menangkal (penyakit dsb); mengelakkan atau menangkis (serangan dsb); - hujan; - penyakit cacar, - serangan musuh; 3 tidak menerima (memberi, meluluskan, mengabulkan); menampik: dia tidak pernah – permintaan anak  kesayangannya; 4 tidak membenarkan (pendapat): guru itu – protes yang diajukan oleh muridnya; 5 mengusir; menghalau: akhirnya negara itu berhasil – penjajah; 6 mengurangi; memotong: toko itu – harga barang sebesar 10% selama bulan ini;            
                       
  
10.  Penggunaan afiks yang tidak tepat
Pada kalimat “Senang deh, RAN tuh masih sama kayak dulu waktu pertama kali ketemu sama Aneka Yess”, pada kenyataan sehari-hari saat kita berbicara dengan orang lain selalu menggunakan kata yang berprefiks ke- contohnya saja pada kalimat “ketemu” di atas. Pada dasarnya kata ketemu seharusnya diucapkan dengan “bertemu” yang mana kata dasarnya adalah temu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI; 1436 ) temu adalah v sua; jumpa: upacara; sedangkan bertemu adalah v 1 ditemukan; diperoleh; terdapat di; kedapatan di; batu permata seelok ini tidak akan-di negara ini; 2 beradapan muka; bersemuka; 3. Mendapatkan atau menemukan (barang yang dicari); 4 berjumpa; bersua;

11.  Penggunaan afiks yang tidak tepat
Kalimat “Kebayang kan kita makan di bawah langit jakarta” juga termasuk suatu yang sering kita ucapkan dalam kehidupan sehari-hari yang mana seharusnya kata kebayang diucapkan terbayang. Kata terbayang memiliki kata dasar yaitu bayang, kemudia adanya penambahan prefiks ter- sehingga menjadi terbayang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI; 152) bayang adalah n 1 ruang yang tidak kena sinar karena terlindung benda; 2 wujud hitam yang tampak dibalik benda yang kena sinar; 3 gambar pada crmin; air, dsb; 4 rupa (wujud) yang kurang jelas dalam gelap; sedangkan terbayang yaitu v 1 seakan-akan tampak; 2 tampak bayang-bayangnya; 3 sudah ada tanda-tandanya ( akan berhasi, dsb ); 4 dapat diihat; tampak;

12.  Penggantian morf-
Kata diatas adanya suatu penggantian morf- dari me- menjadi nge-. Seharusnya kata ngerasa ditulis menjadi merasa. Kata dasar merasa yaitu rasa yang mana dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI;1145) adalah n 1 tanggapan indra terhadap rangsangan saraf spt manis, pahit, masam, thd indra pengecap, atau panas, dingin, (nyeri thd indra perasa); 2 apa yang dialami oleh badan; -pedih dan nyeri di perut merupakan gejala sakit lambung; 3 sifat rasa suatu benda; gula-nya manis; 4 tanggapan hati thd sesuatu; (indra): - sedih, (bimbang, takut); 5 pendapat, ( pertimbangan) mengenai baik dan buruk, salah atau benar, dll; sedangkan kata merasa adalah v 1 mengalami rangsanga yang mengenai (menyentuh) indra (spt yang dialami lidah, kulit, atau badan): setelah – pahit, obat itu diludahkannya; 2 mengalami rasa dihati (batin): -terhina;




1 komentar: